a-ikhtiar-dan-rizky.jpg

Alhamdulillah washalaatu wassalamu `alaa rosulillah.

Alloh Swt. Berfirman, ``Berapa banyak bintang yang (tidak) sanggup membawa Rezekinya sendiri. Allohlah yang memberi rezekinya, juga kepadamu dan dia maha mendengar lagi maha mengetahui.''

(QS. Al-ankabut)



Saudaraku, ada manusia yang setiap hari mencurahkan tenaga dan pikiran untuk mencari Rezeki. Namun, ada juga manusia yang begitu yakin dengan jaminan dari Alloh akan rezekinya. Sementara itu, orang yang paling beruntung adalah orang yang berikhtiar secara lahir, lalu disempurnakan dengan tawakal kepada Alloh Swt. Dan, inilah kemudian yang membuat dirinya menuai jaminan dari Alloh baik didunia maupun diakhirat.

Sementara kita bahagia ketika berikhtiar karena ada juga orang yang sibuk ikhtiar tapi tidak bahagia, penyebabnya karena orang ini bergantung hanya pada ikhtiarnya sendiri. Ia begitu yakin bahwa hanya dengan ikhtiarnyalah keberuntungan bisa ia raih. Padahal, ikhtiar itu bukan untuk kita gantungi. Ikhtiar itu adalah amal shalih kita. Kita diperintahkan untuk ikhtiar. Ikhtiar adalah agar kita mempunyai amal.

Saudaraku, pada dasarnya semua makhluk sudah dijamin rezekinya oleh Alloh. Yang tidak dijamin adalah ganjaran. Ganjaran atau pahala harus kita cari, sedangkan rezeki sudah menjadi jaminan-nya. Oleh karena itu, imam ibnu aththaillah mengatakan, ``Jangan risaukan apa yang sudah dijanjikan Alloh. Kepada kita, tapi risau kanlah kalau kita lalai terhadap kewajiban-kewajiban yang dibebankan terhadap kita.''

Maka kalau kemudian kita masih merasa resah dan gelisah dalam hidup ini, jangan-jangan itu ciri kita masih bergantung kepada ikhtiar. Padahal jikalau kita ingin bahagia dalam mencari nafkah dan rezeki, sempurnakanlah ikhtiar sambil bergantung hanya kepada Alloh (Tawakal).

Alloh maha tahu kebutuhan kita. Maka, berbahagialah orang yang tidak bergantung pada amal ikhtiarnya. Tubuh bersibah peluh berkuah keringat, tapi hati 100% hanya bergantung kepada Alloh Swt.

Kita bisa diberi makan, karena bagaimana mungkin kita bisa menolong orang, bagaimana kita bisa ibadah, kalau kita tidak memiliki energi. Jadi, andai saja kita tau kewajiban kita dan kita tunaikan dengan baik maka Insyaa Alloh, Alloh tidak akan menyia-nyiakannya.


Nah begitulah kurang lebih hakikat ikhtiar dan rezeki kita. Yang utama tunaikan kewajiban kita lebih dahulu, maka insyaa alloh rezeki kita akan terpenuhi. Kewajiban tersebut adalah bergantung hanya kepada Alloh semata, ikhtiar semaksimal mungkin menjemput rezekinya, dan patuhi setiap perintahnya. Karena pemerintah dan larangan Alloh pastilah kebaikan untuk kita. Wallohu`alam bishawab.[]

Wassalamuallaikum Wr.Wb

Ditulis oleh: KH. Abdullah Gymnastiar (Aa-gym) Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung-Jakarta.

Editor: Aa Bahagia